Sumenep – Polemik internal tengah mengguncang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Persiapan Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura. Dugaan pemalsuan tanda tangan dalam proses pengajuan berkas komisariat memicu kegaduhan dan kekecewaan di kalangan pengurus.
Haikal Maulana, salah satu pengurus HMI Komisariat Persiapan UNIBA Madura, mengungkapkan bahwa dirinya merasa dirugikan atas dugaan pencatutan tanda tangan yang tidak pernah ia berikan.
“Saya tidak merasa menandatangani berkas tersebut. Ini sangat merugikan saya dan integritas organisasi,” ujar Haikal kepada bombastik.id.
Pernyataan serupa juga disampaikan RB Bagas NoerMahendra, pengurus lainnya yang membantah keterlibatannya dalam dokumen tersebut.
“Saya tidak pernah menandatangani dokumen itu. Ini jelas mengarah pada pemanfaatan kepentingan pribadi yang tidak sehat,” tegas Bagas.
Saat dimintai konfirmasi, koordinator HMI Komisariat Persiapan UNIBA Madura yang diduga terlibat memilih bungkam. Pesan yang dikirimkan tim bombastik.id tidak direspons hingga berita ini diterbitkan.
Ketua Umum HMI Cabang Sumenep pun hanya memberikan jawaban singkat ketika dikonfirmasi:
“Koordinator mengajukan apa dan kepada siapa?” balasnya singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Situasi ini menimbulkan gejolak besar di tubuh internal HMI Komisariat Persiapan UNIBA Madura. Salah satu kader, Jefri, menilai kasus ini bisa berdampak buruk pada citra organisasi bila tidak ditangani secara serius.
“Persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada klarifikasi terbuka dan penyelesaian secara organisatoris agar tidak menimbulkan preseden buruk di kemudian hari,” tegasnya.
Hingga saat ini, dugaan pemalsuan tanda tangan tersebut masih menjadi perbincangan hangat di kalangan kader, dan publik menanti sikap resmi dari HMI Cabang Sumenep.