Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA) kembali menggelar kegiatan tahunan bertajuk SOeCI (Student Orientation and Campus Induction), sebuah acara orientasi yang sejatinya dirancang untuk memperkenalkan mahasiswa baru kepada dunia kampus. Namun, alih-alih menjadi ruang edukatif dan integratif, kegiatan ini justru menimbulkan tanda tanya besar di kalangan mahasiswa.
Bagas Noer Mahendra, salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) P UNIBA Madura, mengungkapkan keresahannya. Bagi Bagas, SOeCI bukan sekadar acara seremonial. Ia menyadari betapa pentingnya kegiatan ini dalam membangun iklim kebersamaan, memperkenalkan kultur akademik, serta menciptakan sinergi antar mahasiswa lintas prodi dan fakultas.
Namun harapan itu tampaknya berbanding terbalik dengan realita. Di balik nama besarnya, SOeCI justru dinilai mengandung “Aroma Busuk” di tahun 2024. Berbagai isu miring muncul ke permukaan. Dugaan adanya penyelewengan anggaran menjadi sorotan, khususnya terkait penggunaan dana kegiatan yang di mark up secara besar dan tidak ada transparansi yang menimbulkan kecurigaan di kalangan mahasiswa.
“Alih-alih memperbaiki tatanan kampus, malah yang terjadi justru praktik tak terpuji yang melibatkan oknum internal kampus dan juga mahasiswa,” ujar Bagas.
Meski tidak menyebutkan nama atau pihak tertentu, nada kritik tersebut cukup menggetarkan nalar kita. Sebab jika dugaan ini benar adanya, maka nilai-nilai integritas dan pendidikan moral yang selama ini dijunjung tinggi di lingkungan akademik menjadi hampa semata.
Lebih mengkhawatirkan lagi, praktik semacam ini, jika dibiarkan, akan menjadi preseden buruk dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di tingkat perguruan tinggi. Bagaimana mungkin kampus bisa mencetak generasi unggul dan berkarakter, jika dalam proses awal pengenalannya saja sudah diwarnai oleh praktik-praktik yang jauh dari nilai kejujuran dan tanggung jawab?
Kita tentu tidak ingin mahasiswa baru dikenalkan pada dunia kampus dengan wajah yang keliru—wajah yang dihiasi oleh kepentingan pribadi, manipulasi anggaran, dan permainan kekuasaan. Kampus semestinya menjadi ruang bersih untuk menumbuhkan harapan, bukan ladang subur untuk tumbuhnya budaya permisif terhadap penyimpangan.
Oleh karena itu, desakan terhadap transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan SOeCI bukanlah upaya menjatuhkan, melainkan langkah untuk menyelamatkan marwah institusi. Bila perlu, reformasi total terhadap struktur kepanitiaan dan sistem pelaksanaan kegiatan harus dilakukan.
Masyarakat akademik, terutama para dosen dan pimpinan kampus, perlu membuka ruang dialog dan pengawasan yang jujur dan terbuka. Jangan sampai SOeCI hanya menjadi jargon indah tanpa makna, atau lebih buruk lagi, berubah menjadi “Sok SUeCI”, seperti sindiran halus mahasiswa yang muak terhadap kemunafikan sistem.
Kini pertanyaannya bukan hanya “Apakah SOeCI 2025 akan sukses?”, melainkan “Apakah SOeCI 2025 akan bersih dari praktik kotor seperti tahun sebelumnya?”
Jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada keberanian kampus untuk melakukan introspeksi dan bertindak tegas demi masa depan pendidikan yang lebih bersih dan bermartabat.